Wednesday, August 3, 2011

TINGKATAN ORANG BERPUASA

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu berpuasa seperti juga yang telah diwajibkan kepada umat sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertakwa. (QS al-Baqarah, 183).

Ayat di atas merupakan landasan syariah bagi puasa Ramadan. Ayat tersebut berisikan tentang seruan Allah Swt kepada orang-orang beriman untuk berpuasa. Sedangkan bagaimana cara melaksanakannya puasa tersebut dijelaskan dalam ayat-ayat seterusnya yaitu ayat 184-187. Dalam ayat tersebut, yaitu ayat 184 Allah Swt berfirman: “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan [maksudnya memberi makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari], maka Itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.



Sedangkan dalam ayat 185 Allah Swt berfirman: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” Kemudian dalam ayat 186 Allah Swt berfirman: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Selanjutnya dalam ayat 187, Allah Swt berfirman: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf [I'tikaf ialah berada dalam mesjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah] dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.”

Dilihat dari segi bahasa (lughat) seruan Allah Swt dalam ayat 184 tersebut bukanlah seruan yang biasa-biasa saja. Akan tetapi seruan tersebut merupakan seruan wajib yang harus dilaksanakan oleh setiap orang yang beriman. Apabila seruan tersebut tidak dilaksankan dan tidak ada sebab yang membolehkannya maka berdosalah kita.

Dalam bahasa arab puasa itu disebut “as-Shiyaam” atau “as-Shaum” yang berarti “menahan”. Kata “as-Shiyaam” atau “as-Shaum” sendiri sama-sama bentuknya sebagai masdar dari kata kerja “shaama-yashuumu-shouman/shiyaman”. Sedangkan menurut syar’i sebagaimana dikemukan oleh Syeikh Al-Imam Al-‘Alim Al-Allamah Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Qasim Asy-Syafi’i dalam kitabnya “Fathul Qarib” bahwa berpuasa adalah menahan dari segala hal yang membatalkan puasa dengan niat tertentu pada seluruh atau tiap-tiap hari yang dapat dibuat berpuasa oleh orang-orang Islam yang sehat, dan seci dari haid dan nifas.

Sedangkan ulama kontemporer Asy-Seikh Dr. Yusuf Qardhawi dalam kitabnya “Fiqh ash-Shiyaam” menjelaskan bahwa puasa secara syar’i adalah menahan dan mencegah diri secara sadar dari makan, minum, bersetubuh dengan perempuan dan hal-hal sejenisnya, selama sehari penuh. Yakni menahan diri tersebut mulai dari munculnya fajar hingga terbenamnya matahari, dengan niat memenuhi perintah dan taqarub kepada Allah Swt.



Tiga Tingkatan Orang Berpuasa

Puasa, khususnya puasa di bulan Ramadan hukumnya wajib bagi setiap orang yang beriman (Islam), sudah dewasa (baligh), berakal sehat, dan yang kuasa (mampu) mengerjakan puasa. Hal tersebut merupakan syarat wajib puasa, walaupun menurut sebagian pendapat bahwa dalam “hal orang mampu” bisa dianggap gugur (tidak termasuk syarat wajib puasa).

Dalam hal orang berpuasa, Syeikh al-Islam al-Imam al-Ghazali dalam kitabnya “Ihyaa’ ‘Uluum ad-Diin” mengkelompokkan orang berpuasa menjadi tiga kelompok atau tiga tingkatan, yaitu: puasa awam (Shaum al-’Awaam), puasa khusus (Shaum al-Khawaas), dan puasa khusus yang lebih khusus lagi (Shaum al-khawaash al-Khawaash).

Pertama, disebutnya sebagai kelompok/tingkatan puasanya orang awam (orang kebanyakan). Tingkatan puasa ini menurut Al-Ghazali adalah tingkatan puasa yang paling rendah, kenapa? Karena dalam puasa ini hanyalah menahan dari makan, minum, dan hubungan suami istri (fakaf al-Bathni wa al-farji an Qadhai as-Syahwat). Kalau puasanya hanya karena menahan makan dan minum serta tidak melakukan hubungan suami isteri di siang hari, maka kata Rasulullah Saw puasa orang ini termasuk puasa yang merugi yaitu berpuasa tapi tidak mendapatkan pahala. Hal ini lah yang diwanti-wanti oleh Rasulullah Saw dengan sabdanya: Kam min Shaimin laisa lahu min shiyaamihi illa al-Juu’ wa al-‘Athas, artinya “banyak orang berpuasa tapi tidak mendapatka pahala berpuasa, yang ia dapatkan hanya lapar dan dahaga.”

Sedangkan yang kedua adalah puasa khusus, yaitu di samping menahan yang tiga hal tersebut, juga memelihara seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat. Maka puasa ini sering disebutnya dengan puasa para Shalihin (orang-orang saleh). Menurut Ghazali, seseorang tida akan mencapai kesempurnaan dalam tinkatan puasa kedua ini kecuali harus melewati enam hal sebagai prasayaratnya, yaitu 1) menahan pandangan dari segala hal yang dicela dan dimakruhkan; 2) menjaga lidah dari perkataan yang sia-sia, berdusta, mengumpat, berkata keji, dan mengharuskan berdiam diri, menggunakan waktu untuk berzikir kepada Allah serta membaca Al-Quran; 3) menjaga pendengaran dari mendengar kata-kata yang tidak baik; 4) mencegah anggota tubuh yang lain dari perbuatan dosa; 5) tidak berlebih-lebihan dalam berbuka, sampai perutnya penuh makanan; 6) hatinya senantiasa diliputi rasa cemas (khauf) dan harap (raja) karena tidak diketahui apakah puasanya diterima atau tidak oleh Allah.

Tingkatan puasa yang ketiga adalah puasa khusus yang lebih khusus lagi yaitu, di samping hal di atas adalah puasa hati dari segala keinginan hina dan segala pikiran duniawi, serta mencegah memikirkan apa-apa selain Allah Swt (shaum al-Qalbi ‘an al-Himam ad-Duniyati wa al-Ifkaar al-Dannyuwiyati wakaffahu ‘ammaa siwa Allaah bi al-Kulliyati). Menurut Al-Ghazali, tingkata puasa yang ketiga ini adalah tingkatan puasanya para nabi , Shiddiqqiin, dan muqarrabin.

Akhirul kalam, masuk ke tingkatan manakah puasa kita? Mudah-mudahan masuk pada tingkatan puasa yang kedua dan ketiga. Wallaah A’lam I

18 komentar:

Kasep Tenan said...

thks sobat, infonya sangat brmanfaat.

jackychain said...

This is a wonderful opinion. The things mentioned are unanimous and needs to be appreciated by everyone.

critical illness cover quote

jackychain said...

The society is facing problems with such laws. This has to go legal and it’s needed to be sorted at the earlier.

cheap life insurance

lavi said...

The above statement is seen to be contradictory. The situation is very critical and need an experience complainer to resolve it.
debt management

obat herbal stroke said...

infonya bags sekali gan. tks

obat herbal gagal ginjal said...

the artikel is very good

obat tradisional jantung koroner said...

wah artikelnya sangat bermanfaat

pengobatan kencing manis said...

berpuasa merupakan kewajiban bagi umat muslim,,,

Training CSMS said...

nice info gan, btw blognya di update dong, ayoo semangka = semangat kakak...

obat herbal maag kronis said...

ningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita nie...
nice info...

obat herbal stroke said...

mengingatkan aku untuk tetap harus menjaga keimanan..
good info...

obat herbal penyakit jantung said...

salam sejahtera

obat herbal keloid said...

keren asrtikelnya sangat bermanfaat

obat stroke tradisional said...

artikel yang luar bisa nih sob..

The Masnur said...

makasih infonya ....jadi tau tentang tingkatan dalam berpuasa ...

penyakit kanker kelenjar getah bening said...

infonya keren gan ,, maksih gan

pengobatan asam urat said...

terimakasih
artikelnya sangat bermanfaat

Obat Herbal Lemah Syahwat said...

infonya bagus gan...

Post a Comment