
Dalam suasana Romadhon yang penuh berkah ini, mari sedikit kita mengingat tentang pemutus kenikmatan, pencerai keharmonisan hidup dan titik awal menuju kehidupan yang abadi, tidak lain tidak bukan dialah KEMATIAN.
Banyak orang tak menyadari bahwa hidupnya akan berujung di sebuah titik, tanpa koma. Titik kematian. Titik kepastian yang telah Allah gariskan.
Ketidak sadaran ini berasal karena dia menyangka bahwa dunia akan toleran membiarkan hidup berlama-lama mengumbar keinginan nafsunya kemudian baru menyadarinya bahwa titik kematian itu sudah tiba. Kematian adalah kepastian yang menjadi misteri yang tidak ada satu orangpun mampu menebak kapan datangnya. Namun dia pasti. Dan sekali dia datang maka dia akan mengakhir semua angan dan cita yang kita bangun. Dia adalah penghancur kelezatan, dia adalah penakluk keinginan, dia adalah peremuk semua angan. Kematian adalah kepastian yang menjadi misteri yang tidak ada satu orangpun mampu menebak kapan datangnya. Namun dia pasti. Dan sekali dia datang maka dia akan mengakhir semua angan dan cita yang kita bangun. Dia adalah penghancur kelezatan
Lalai akan kepastian kematian bermula dari penghambaan kita pada dunia. Dia berawal karena kita senantiasa menghamba pada dunia. Dunia telah mengaburkan pandangan mata batin kita untuk melihat indahnya akhirat yang berkilau nikmat. Mata hati dan batin kitamenjadi gelap karena dia menghiasinya dengan pernih dunia. Mata batin kita menjadi gulita karena kita telah menutupnya dengan hiasan dunia.
Hari-hari kita berselimutkan dunia. Ada gumpalan kebanggaan dalam diri kita akan harta yang kita miliki. Jabatan yang kita duduki, posisi yang kita nikmati, kekuasaan yang kita kangkangi. Yang kemudian menjadikan kita larut, larut dan terus larut dalam kelalaian yang tiada bertepi. Yang sengaja Allah tidak hentikan kelalaian itu sehinga kita telah pula menjadikan kita lupa akan Allah yang Mahakuasa.
Dunia yang seharusnya kita jadikan sebagai hamba, telah berbalik menjadi tuan. Dunia yang seharusnya berada di bawah telapak kaki kita jadikan di ubun-ubun kita. Dunia yang seharusnya kita dengan gampang menginjak-injaknya, telah dengan gampang menginjak-injak kepala kita. Dunia yang seharusnya tidak pernah menempel di dalam sanubari kita, malah menjadi raja yang mengatur semua organ tubuh kita.
Kita lupa bahwa dunia ini Allah hamparkan untuk kita atur menuju Allah. Dan tidak menjadikan dunia mengalihkan perhatian batin kita dari Allah. Allah serahkan dunia ini agar kita mampu mengelolanya sebagai bekal untuk akhirat, namun kita sering kali lupa dan kita terjebak di jala-jalanya yang banyak menggoda dan melalaikan kita.
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Al-Jatsiyah : 23)
Biarkan dunia itu kalian posisikan pada posisinya yang benar. Menjadi hamba-hamba kalian, menjadi abdi-abdi kalian, menjadi pelayan-pelayan kalian. Dengan demikian kalian akan mudah menjadi hamba Allah, Tuhan yang kalian. Tuhan semesta alam.
Budak dunia akan kehilangan akhirat dan pemburu akhirat akan membuat dunia terbirit-birit mengejarnya di segala kesempatan.
Berbahagialah mereka yang menguasa dunia dan celakalah mereka yang dikuasai dunia.
..read more
Wednesday, September 9, 2009
Jangan Tertipu Kenikmatan Dunia
Diposkan oleh
Kahono
di
9/09/2009
7
komentar
Label: ingat mati, Islamic, Kisah Islami, mengingat kematian, Refleksi hidup, Renungan
Tuesday, March 17, 2009
Pemilu Di Mataku (Bingung Milih Caleg??)
Kampanye terbuka resmi mulai di gelar kemarin, saya sangat setuju dengan komitmen Damai Pemilu 2009, namun sungguh sayang deklarasi dan kesepakatan damai Pemilu yang digelar kemarin malah terjadi kerisuhan (baca kompas har ini). Ironis memang saat deklarasi saja sudah kisruh, namun semoga Damai Pemilu 2009 akan bisa terwujud, dengan dukungan dari semua ihak saat ini saya pribadi cukup yakin kalau Pemilu 2009 akan berjalan dengan baik.. semoga.
Kalau ditanya besok mau milih apa/siapa, terus terang gak punya gambaran dan hal itu tentu bukan saya saja yang merasakan, saya coba tanya tetangga kanan kiri, jawabannya juga saya gak tahulah, gimana nanti aja !!?? Gimana nanti saja.. hehe dalam hatiku.. sama deh kalo gitu.
Pemerintah maupun LSM banyak menyampaikan himbauan JANGAN SALAH PILIH, pilih yang baik, pilih yang jujur, pilih yang mengerti rakyat ?
Sebagai salah satu wni saya mau tanya balik, tolong tunjukkan yang baik, yang jujur, yang tahu rakyat itu yang manaaaa.. ???? hati kecilku berteriak.. mereka pun pasti bingung apalagi saya, dan saya kira tidak jauh beda dengan rakyat
Ah ini Cuma celotehanku saja kali…
namun jika kita perhatikan banyak sekali caleg yang tidak kita kenal, tiba-tiba muncul dan meminta dukungan. Kita tidak tahu siapa dia, belum pernah kita lihat sebelumnya apalagi tahu sifat, tingkahlaku lebih-lebih misi dan visinya, programnya apalagi? Belum
Gimana nanti ajalah!! Tapi jangan sampai salah pilih… naahh bingung
Kalau salah entar bisa-bisa tidur semua waktu sidang kayak gini?
“Wakil.. rakyat seharusnya.. merakyat … jagan tidur.. waktu sidang soal rakyat….”
Kayak lagunya om Iwan Fals
Apakah ada satu orang saja diantara temen-temen yang punya pendapat sama??
Please coment.. yaa.. siapa tahu bisa dapat pencerahan…
NB: Just my confused
Diposkan oleh
Kahono
di
3/17/2009
22
komentar
Label: Celoteh, Kepemimpinan, Refleksi hidup, Renungan
Friday, February 20, 2009
Gaya Kepemimpinan Toxic Leader (Mari Kita Instrospeksi Diri)

“Toxic Leader” mungkin kita bertanya-tanya saat mendengar istlah ini, satu istilah yang cukup asing didengar di telinga kita. Apa itu Toxic Leader? Kita mungkin akrab dengan masing-masing istilah “Toxic” ataupun “Leader,” oleh karena itu saya akan mencoba mengawalinya dengan definisi dari kedua suku kata tersebut.
“Toxic,” atau dalam Bahasa Indonesia lebih dikenal dengan sebutan “Racun”, merupakan suatu senyawa yang dapat menyebabkan keracunan. Sedangkan “Leader,” atau dalam Bahasa Indonesia lebih dikenal dengan sebutan “Pemimpin”, memiliki arti seseorang yang memiliki otoritas untuk mengatur, membimbing, atau menginspirasi orang lain (ket.: definisi “Toxic” dan “Leader” diambil dari kamus web by Princeton Univ.). Melalui kedua definisi suku kata tersebut, coba saya simpulkan bahwa Toxic Leader berarti seorang penguasa yang dapat menyebabkan “keracunan” (menyebarkan suasana negatif) di tempat kerja.
Apakah ada karakter-karakter tertentu yang spesifik dimiliki oleh seorang Toxic Leader? Jawabannya adalah: Ya. Seorang Toxic Leader memiliki tujuh ciri spesifik dalam gaya bekerja (karakternya). Berikut adalah ketujuh ciri tersebut:
1.Menganut sistem “Totempol Management.”
Totempol Management berasal dari kata “Totem” yang merupakan semacam tugu pemujaan Suku Indian. Tugu Totem ini terdiri dari serangkaian figur yang tersusun bertingkat (saling menginjak satu sama lain). Seorang Toxic Leader umumnya menganut sistem Totempol Management di mana dia memandang rendah seorang bawahan sehingga dia akan menginjaknya. Toxic Leader menganggap bawahannya sebagai orang yang tidak pernah mampu mencapai standar kerja yang diinginkan dirinya, dan sering berkata: “Bodoh banget sih, kerja begini aja gak bisa, ini kan murni logika!” Akan tetapi, di sisi sebaliknya, dia akan melayani atasannya sebaik mungkin, sehingga atasannya akan menilai dia sebagai seorang yang memiliki kinerja yang baik.
2. Menimbulkan atmosfer kerja yang kurang kondusif
Terkadang kehadiran seorang Toxic Leader bisa menyebabkan suasana kerja menjadi sangat tidak mendukung. Para bawahan akan seringkali merasa bahwa pekerjaan akan terasa jauh lebih menyenangkan tanpa adanya si Toxic Leader itu, dan para bawahan merasa bahwa mereka bisa lebih produktif dalam bekerja ketika si Toxic Leader sedang tidak berada di sekitar mereka.
3. Memberikan promosi yang sangat baik kepada bawahan yang “loyal” padanya
Toxic Leader menyukai “blind loyalty”. Mereka akan sangat menyenangi “Yes-Man”, yaitu orang-orang yang akan selalu berkata “Ya” pada segala hal yang diperintahkannya. Dia akan seringkali mengungkapkan kalimat: “Pokoknya kerjakan saja seperti yang saya mau! Saya tunggu hasilnya!”
4. Menimbulkan rasa takut
Toxic Leader seringkali menggunakan tekanan rasa takut (ancaman) untuk mencapai tujuannya. Contoh kalimat yang seringkali diucapkan oleh seorang Toxic Leader: “Segera perbaiki performa kerja kamu! Atau kamu saya pecat!!”
5. Membuat kondisi tim kerja menjadi buruk
Dengan timbulnya suasana kerja yang kurang kondusif, secara otomatis akan banyak orang yang lama kelamaan tidak tahan bekerja di bawah pimpinannya sehingga rasio turn-over pun menjadi tinggi. Dalam jangka panjang hal ini akan berdampak pada gagal terbentuknya sebuah tim yang sukses karena terlalu sering terjadinya pergantian tenaga kerja (bayangkan sulitnya membentuk sebuah tim yang solid jika terjadi pergantian pemain terus menerus).
6. Seringkali menggunakan bahasa yang sifatnya “foggy”
Toxic Leader seringkali menggunakan gaya bahasa “foggy” atau berkabut, alias tidak jelas dan terlalu general sifatnya. Gaya bahasa ini berfungsi untuk mengelak jika suatu saat ada seseorang yang mencoba memutarbalikkan perkataannya. Ketika diserang balik dan merasa sulit mengelak, seorang Toxic Leader akan berbicara dengan nada suara yang “manis” dan berkata: “Maksud saya kan tidak seperti itu... Kamu salah mengartikan maksud saya...”
7. Akan menghalalkan segala cara dalam kondisi terdesak
Dalam kondisi terdesak, seorang Toxic Leader akan melakukan cara apapun agar tujuannya dapat tercapai dan tidak segan untuk menyalahkan bawahannya atas berbagai hal buruk yang terjadi di tempat kerja (padahal hal baik ataupun buruk di tempat kerja semuanya menjadi tanggung jawab dia juga sebagai atasan kan? ^^)
Umumnya para Toxic Leader ini akan sulit sekali untuk dilawan secara frontal karena sistem Totempol Management yang digunakannya (menginjak bawahan – melayani atasan). Ketika kita coba mengungkapkan ketidakpuasan kita terhadap gaya kepemimpinannya kepada atasannya, seringkali hal tersebut akan berbalik menyerang kita. Si atasan dari Toxic manager ini akan berkata kepada kita: “Tidak ada yang salah dengan pimpinanmu, kinerjanya baik kok. Jangan-jangan masalahnya ada pada diri kalian?” Justru kita yang malah menjadi sasaran. Oleh karena itu kita harus memiliki approach tersendiri terhadap Toxic Leader, karena akan sulit sekali bisa menang dalam peperangan frontal dengan Toxic Leader (biar bagaimanapun he’s the boss kan?).
Dua cara yang bisa dipakai untuk menghadapi Toxic Leader:
1. Gunakan kecerdasan emosional (EQ) anda.
Cari cara terbaik untuk approach Toxic Leader. Dengan approach yang tepat, bukan tidak mungkin kita bisa melunakkan hatinya (membuatnya berubah pikiran), atau bahkan membantu dia memperbaiki karakternya (detoxification)
2. Cari tempat kerja baru.
Ini jalan keluar terakhir jika anda sudah merasa frustasi bahwa anda tidak bisa menemukan approach yang tepat terhadap si Toxic Leader. Jika anda tidak bisa mempertahankan sikap positif anda, bisa-bisa anda akan menjadi negatif seperti dia dan membuat anda sulit berkembang. Bahkan dengan keluar dari tempat kerja anda, anda bisa sekalian memberikan “teguran” tersirat terhadap si Toxic Leader atas gaya kepemimpinannya.
Sekian sharing dari saya, jika anda seorang bawahan yang menghadapi seorang Toxic Leader, mudah-mudahan anda dan rekan-rekan kerja anda bisa sehati dan saling menguatkan dengan cara senantiasa menyebarkan aura positif di tempat kerja anda supaya tidak selalu habis terserap oleh aura negatif si Toxic Leader. Dan jika anda seorang pimpinan, mudah-mudahan topik sharing ini bisa digunakan untuk introspeksi diri anda. Memiliki satu ciri saja dari ketujuh ciri Toxic Leader, maka anda sudah masuk kualifikasi untuk dapat disebut sebagai Toxic Leader (tidak perlu memiliki ketujuhnya untuk menjadi seorang Toxic Leader). Akan sangat baik jika anda bukan seorang Toxic Leader, namun jika anda sudah terlanjur menjadi Toxic Leader, mudah-mudahan bahan sharing ini bisa menjadi semacam detoxifikasi supaya gaya negatif kepemimpinan anda tidak semakin berlarut-larut, sehingga kesuksesan dapat dicapai sebagai seorang Leader & Manager yang baik dimana anda mencapai sukses “through & together with other people.”
(Topik diambil dari radio talk Smart FM by: Anthony Diomartin (EQ Specialist)
..read more
Diposkan oleh
Kahono
di
2/20/2009
1 komentar
Label: Celoteh, Kepemimpinan, Motivasi, Refleksi hidup
Thursday, February 12, 2009
Keagungan Sang Ibu Bunda Wanita
Masih mampukah kita tertawa melihat penderitaan- nya?
Mencaci maki-nya?
Melawan-nya?
Memukul-nya?
Mengacuhkan- nya?
Meninggalkan- nya?
Ibu tidak pernah mengeluh membersihkan kotoran kita waktu masih kecil,
Memberikan ASI waktu kita bayi,
Mencuci celana kotor kita,
Menahan derita,
Menggendong kita sendirian.
Disaat ibumu tidur, coba kamu lihat matanya dan bayangkan matanya takkan terbuka untuk selamanya..tangannya tak dapat hapuskan air matamu dan tiada lagi nasihat yang sering kita abaikan..bayangkan ibumu sudah tiada..apakah kamu cukup membahagiakannya. .apakah kamu pernah berfikir bertapa besar pengorbanannya semenjak kamu berada di dalam perutnya...kirim pesan ini pada semua...itupun kalau kamu sayang ibumu dan mau mengingatkan teman2mu
Ingat-ingatlah lima aturan sederhana untuk menjadi bahagia:
1. Bebaskan hatimu dari rasa benci.
2. Bebaskan pikiranmu dari segala kekuatiran.
3. Hiduplah dengan sederhana.
4. Berikan lebih banyak (give more)
5. Jangan terlalu banyak mengharap (expect less)
SADARILAH bahwa di Dunia ini tidak ada 1 orang pun yang mau mati demi IBU, tetapi...
Beliau justru satu-satunya orang yang bersedia mati untuk melahirkan kita… ..read more
Diposkan oleh
Kahono
di
2/12/2009
1 komentar
Label: Celoteh, Motivasi, Refleksi hidup, Renungan
Saturday, February 7, 2009
Sopan Santun di Jalan Raya |Tertib Berlalu Lintas (Sebuah Renungan)

Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Jono segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat, sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lengang. Lampu berganti kuning. Hati Jono berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala.Jono bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. "Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak," pikirnya sambil terus melaju.
Prit!
Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Jono menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing.
Hey, itu khan Bobi, teman mainnya semasa SMA dulu.
Hati Jono agak lega.
Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.
"Hai, Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!"
"Hai, Jon." Tanpa senyum.
"Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru.
Istri saya sedang menunggu di rumah."
"Oh ya?"
Tampaknya Bobi agak ragu. Nah, bagus kalau begitu.
"Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong."
"Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini."
Oooo, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jono harus ganti strategi.
"Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah.. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala."
Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan.
"Ayo dong Jon. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIM-mu."
Dengan ketus Jono menyerahkan SIM, lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup kaca jendelanya. Sementara Bobi menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa saat kemudian Bobi mengetuk kaca jendela. Jono memandangi wajah Bobi dengan penuh kecewa.Dibukanya kaca jendela itu sedikit.
Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Bobi kembali ke posnya. Jono mengambil surat tilang yang diselipkan Bobi di sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Jono membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bobi.
"Halo Jono, Tahukah kamu Jon, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan aku Jon. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah. (Salam, Bobi)".
Jono terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bobi. Namun, Bobi sudah meninggalkan pos jaganya entah ke mana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak menentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan... ....
Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati. Drive Safely Guys..
..read more
Diposkan oleh
Kahono
di
2/07/2009
2
komentar
Label: Celoteh, Motivasi, Refleksi hidup, Renungan
Thursday, January 29, 2009
Merancang Masa Depan / Hari tua

Beberapa hari yang lalu saya ikut datang di acara perpisahan dengan salah satu middle Bos yang mengundurkan diri dari Perusahaan tempat aku kerja. Acara cukup sederhana diresto kecil dan menunya pun menurut aku tidak istimewa. Bukan masalah menu makanan yang ingin aku share disini, ada satu yang terasa menampar, menggugah tidur nyenyakku.
Saat beberapa rekan diminta kesan dan pesan cerita yang muncul seperti biasa yang lucu-lucu, konyol dan ada juga yang membuat marah. Pokoknya kenangan bersama middle Bos yang tak terlupakan.
Sebagai personal yang sudah mapan, sungguh sayang sekali mengundurkan diri dari posisi aman nyaman, begitu yang terlintas dipikiranku. Hal itu ternyata dirasakan juga oleh Pak Bos ini, saat diminta kesan dan pesannya dia menyampaikan yang initinya :
“Sebenarnya saya berat untuk keluar dari perusahaan ini, yang kita semua tahu sangat enak kerja disini, namun sejak kecil saya punya impian yang harus saya wujudkan” kata Pak Bos itu. Sesekali menghela nafas dia melanjutkan “Impian kecil saya adalah : Saya harus sukses dan mempunyai usaha sendiri tidak selamanya ikut orang!! Kita sebagai karyawan punya limit umur, kalau tidak dipikir dari sekarang mau kapan lagi ? tidak mungkin memulai usaha setelah kita pensiun, terlambat !! mumpung masih muda mari kita rintis usaha sendiri dan saat tua nanti kita bisa menuai hasil. Pensiaun dengan tenang nyaman dan kecukupan “
Begitulah kira-kira yang disampaikan oleh Pak Bos ini, dia baru berumur 43 tahun sungguh usia matang kalau dilihat dari perjalanan kariernya. Sesampai dirumah saya merenungkan pesan Pak Bos ini, dan sungguh seolah mendapat sebuah tamparan, kenapa aku tak berpikir sejauh itu? Padahal gajiku sebagai kuli pabrik sungguh jauh dari mapan (namun dalam hati tetap bersyukur Alhamdulillah masih dapat income, masih banyak dibawah aku ??…) namun kenapa belum melangkah kearah sana ??
Satu pelajaran yang aku ambil dari acara itu, kita harus siapkan masa depan lebih baik dari sekarang, punya usaha sendiri, toko klontong, warnet, bisnis online, agen minyak tanah, jualan pulsa ?? koq semua dah banyak saingannya yaaa!!! Wah bingung mau merintis usaha apa…
Mungkin saat ini aku memang belum punya gambaran yang jelas untuk masa tuaku, namun sambil jalan aku kan mencari pelunag itu, ya Allah tunjukkan jalan menuju kesana.. Semoga apa yang ada dibenakku ini tidak hanya menjadi keinginan yang terendam namun bisa terlaksanakan... amien.
..read more
Diposkan oleh
Kahono
di
1/29/2009
23
komentar
Label: Motivasi, Refleksi hidup
Thursday, January 22, 2009
Indahnya Berbagi Dengan Sesama

Berbagi dengan orang lain, walaupun sekecil apapun itu akan sangat bermanfaat bagi diri kita lebih lebih bagi orang lain. Kecil menurut kita namun bisa berarti besar bagi orang lain. Berbuat baik terlebih dahulu kepada orang lain memang terasa sulit, namun bila sobat bisa melakukannya beruntunglah! karena kebaikan itu pasti akan kembali kepada kita dengan jumlah yang berlipat ganda. Demikian salah satu materi ceramah yang pernah saya dapat disuatu pengajian.
Sebuah cerita ilustrasi yang bisa kita ambil hikmahnya tentang indahnya berbagi dengan orang lain, selamat menyimak dan semoga bisa memotivasi diri kita.
Suatu ketika seorang manusia diberi kesempatan untuk berkomunikasi dengan Tuhannya dan berkata, "Tuhan ijinkan saya untuk dapat melihat seperti apakah Neraka dan Surga itu". Kemudian Tuhan membimbing manusia itu menuju ke dua buah pintu dan kemudian membiarkannya melihat ke dalam.
Di tengah ruangan terdapat sebuah meja bundar yang sangat besar, dan di tengahnya terdapat semangkok sup yang beraroma sangat lezat yang membuat manusia tersebut mengalir air liurnya. Meja tersebut dikelilingi orang-orang yang kurus yang tampak sangat kelaparan.
Orang-orang itu masing-masing memegang sebuah sendok yang terikat pada tangan masing-masing. Sendok tersebut cukup panjang untuk mencapai mangkok di tengah meja dan mengambil sup yang lezat tadi. Tapi karena sendoknya terlalu panjang, mereka tidak dapat mencapai mulutnya dengan sendok tadi untuk memakan sup yang terambil.
Si Manusia tadi merinding melihat penderitaan dan kesengsaraan yang dilihatnya dalam ruangan itu.
Tuhan berkata, "Kamu sudah melihat NERAKA"
Lalu mereka menuju ke pintu kedua yang ternyata berisi meja beserta sup dan orang-orang yang kondisinya persis sama dengan ruangan di pintu pertama. Perbedaannya, di dalam ruangan ini orang-orang tersebut berbadan sehat dan berisi dan mereka sangat bergembira di keliling meja tersebut.
Melihat keadaan ini si Manusia menjadi bingung dan berkata "Apa yang terjadi ? kenapa di ruangan yang kondisinya sama ini mereka terlihat lebih bergembira ?"
Tuhan kemudian menjelaskan, "Sangat sederhana, yang dibutuhkan hanyalah satu sifat baik"
"Perhatikan bahwa orang-orang ini dengan ikhlas menyuapi orang lain yang dapat dicapainya dengan sendok bergagang panjang, sedangkan di ruangan lain orang-orang yang serakah hanyalah memikirkan kebutuhan dirinya sendiri"
Tunggu apalagi, mari sobat, kita belajar bebagi mulai dari diri kita sendiri, dari hal-hal yang kecil yang bisa kita laukan, selamat berbagi dan merasakan kebahagiaan yang akan kita rasakan..
..read more
Diposkan oleh
Kahono
di
1/22/2009
18
komentar
Label: Motivasi, Refleksi hidup
Thursday, December 11, 2008
Manajemen Strategi Bisnis 16 Strategi Zhuge Liang (Sixteen Strategies of Zhuge Liang)
Beberapa hari yang lalu saya dapat kiriman email dari seorang temen, tentang petuah dari negeri
Saya rasa ini cukup baik dan bisa coba kita teladani meskipun ditingkat keluarga bukan negara, berikut 16 strategi Zhuge Liang tersebut :
1. Memerintah Negara
Menjadi setepat Bintang Utara. Tahukah Anda bahwa memerintah negara sama seperti mengurus keluarga? Anda harus memiliki dasar yang benar. Sekali Anda benar, sisanya tidak akan salah. Dasar dari suatu keluarga adalah kepala keluarga, dasar dari suatu negara adalah kepala negara. Dalam memerintah negara, pemerintah sama seperti Bintang Utara, memimpin jalan. Karena itu, kepemimpinan yang kuat dan stabil serta rencana yang matang merupakan dasar bagi pertumbuhan suatu negara atau organisasi. Setiap negara yang kuat dan makmur selalu memiliki penguasa yang bijak. Seperti Bintang Utara, posisinya harus tetap benar untuk memberikan arah. Ia yang tak tentu arah, bodoh, dan pengecut, akan gagal dalam apa punyang dilakukannya. Sebenarnya, kepemimpinan yang baik dan mantap tak dapat dipisahkan dalam suatu organisasi bisnis. Pemimpin harus sanggup menangkap kesempatan yang muncul dan menyelesaikannya.
2. Hubungan antara Penguasa dan Bawahan
Jadikan rasa hormat dan kesetiaan penghubung antara penguasa dan bawahannya. Penguasa harus memperlakukan bawahan dengan baik. Bawahan harus melayani penguasa dengan setia. Penguasa harus memperlakukan bawahan dengan adil. Bawahan harus melayani penguasa dengan patuh. Penguasa tidak hanya memerintah bawahan, tapi juga menunjukkan perhatian, perlindungan dan penghargaan. Seorang penguasa harus baik terhadap bawahan dan menghormati perasaannya. Bawahan harus menganggap kesetiaan sebagai kebajikan. Penguasa yang tidak mempercayai bawahan akan berakhir sendirian. Seorang penguasa yang bekerja dengan dekat dan rajin bersama bawahan akan selalu harmonis. Ini juga berlaku bagi seluruh eselon dari sebuah perusahaan.
3. Memperhatikan dan Mendengarkan
Menjadi pemimpin yang menguasai situasi dengan baik. Seorang penguasa harus membuka lebar mata dan telinga agar dapat menguasai situasi negara dengan baik. Anda tidak dapat mengatakan berpandangan tajam jika tak bisa melihat kesulitan bawahan. Anda tak bisa menyatakan berpendengaran tajam jika tak bisa mendengar rintihan bawahan.
4. Menerima Saran
Menerima ide orang lain. Kata-kata manis tidak dalam tapi dangkal. Seorang penguasa bijak harus bisa menerima saran, ide bahkan kritik dariorang lain. Seorang penguasa yang cakap harus mempunyai pegawai yang jujur dan lurus di sampingnya. Seorang penguasa yang bodoh hanya memiliki bawahan yang penjilat di sekitarnya. Obat yang baik terasa pahit dan saran yang baik juga demikian. Sungguh terpuji seseorang yang berkedudukan tinggi seperti Kaisar / GM dapat menerima kritik pedas.
5. Memahami
Memahami masalah sepenuhnya dan membuat batasan antara yang benar dan yang salah. Pejabat yang setia dan yang jahat berbeda tapi sulit mengatakannya dari penampilansaja. Orang akan salah jika hanya mendasarkan pada perkataan dan sikap luar saja. Seorang penguasa harus berhati-hati saat memutuskan apakah benar atau salah.
6. Mengatur Orang
Seorang penguasa harus membiarkan bawahannya mengetahui tujuan dan rencananya sehingga mereka memahami kebijakan pemerintah. Pemerintah harus pertama-tama mendirikan seperangkat hukum yang jelas. Hukum harus diketahui sampai keseluruh negeri. Bila rakyat bersatu, mereka dapat memenangkan pertempuran. Seorang pemimpin harus membuat rakyatnya mengerti dengan jelas kebijakandan tujuan pemerintah. Hanya dengan demikian ia mendapat dukungan dan pengertian rakyatnya.
7. Pemilihan Orang
Carilah yang berguna dan pekerjakan yang bebakat. Salah satu cara penting memerintah negara adalah menempatkan orang yang mampu dan jujur pada posisi kunci untuk mengatasi penjilat yang licik dan penjahat yang tamak. Inti dari memelihara kesehatan adalah pengaturan nafas dan membangun energi vital. Inti dari memerintah negara adalah mencari yang berguna dan mempekerjakan yang cakap. Negara dengan pemimpin yang cakap adalah seperti rumah yang ditopang tiang-tiangnya.
8. Evaluasi Kinerja
Promosikan yang berjasa dan pecat yang kurang mampu.Jika seorang penguasa ingin istananya bersih dari korupsi dan negaranya kuat dan makmur, penting untuk mengevaluasi kinerja bawahannya.Kriteria apa yang dipakai dalam menaikkan pangkat atau memecat pejabat? Kriterianya adalah apakah mereka dapat memberikan kontribusi bagi keberhasilan organisasi. Sangat berbahaya jika dipengaruhi oleh perasaan dan kesukaan pribadi.
9. Administrasi Militer
Rencanakan dengan baik dan menangkan dengan strategi yang benar. Memobilisasi tentara, memulai peperangan dan membela negara merupakan masalah penting yang tak boleh diputuskan tergesa-gesa.
10. Hadiah dan Hukuman
Berikanlah hadiah dan hukuman untuk membentuk pemerintahan yang bersih dan efesien. Hadiah tak tergantung pada kedudukan tapi jasa Anda. Hukuman harus dilaksanakan tanpa pengecualian. Penguasa yang baik akan mendorong orang-orangnya mengemukakan pendapat dengan memberikan hadiah dan hukuman. Hasilnya, orang-orangnya dapat memberikan bantuan terbaik dalam usaha menyatukan negara.
11. Saat Emosi
Jangan menuruti emosi. Seorang penguasa harus tetap bisa menguasai emosinya dan mengendalikan diri. Seorang penguasa harus berwibawa dan tak cepat marah. Dia boleh menunjukkan kemarahan tapi tidak kehilangan akal sehat. Ia boleh bergembira tapi tidak berkelebihan. Ia juga tak boleh tenggelam dalam masalah pribadi dan melupakan pemerintahan negara.
12. Mengendalikan Kekacauan
Berhati-hati saat menghadapi situasi kacau. Apa yang harus dilakukan saat pemerintahan sedang kacau? Pertama, kurangi jumlah staf dan kenakan disiplin ketat. Ok, segera dilakukan. Jika perbaikan tidak dilaksanakan dengan benar atau terburu-buru,akan terjadi kekacauan yang lebih besar. Reformasi harus dilaksanakan dengan hati-hati sesuai dengan kondisi yang ada di negara dan keinginan rakyat.
13. Pendidikan dan Perintah
Koreksi diri sebelum mengeluarkan perintah.Seorang penguasa yang malas tapi keras terhadap bawahan berarti menerapkan kebijakan yang buruk. Seorang penguasa yang tegas pada dirinya sebelum mengeluarkan perintah kepada bawahan berarti mempraktikkan kebijakan yang baik. Seorang penguasa yang tidak mempraktikkan apa yang dikatakannya akan kesulitan menerapkan perintah. Bila perintah tak dilaksanakan akan terjadi kekacauan. Penting untuk memberi contoh. Koreksi dirimu sebelum mengoreksi orang lain . Ini adalah prinsip kepemimpinan yang sederhana dan efektif tapi sering dilupakan.
14. Menghadapi Kesulitan
Bertindak tepat mengatasi masalah sebelum berkembang. Negara harus punya hukum seperti keluarga mempunyai peraturan. Hukum dan peraturan harus dipatuhi sejak dibuat. Jika melakukan tindakan yang benar sejak awal, tidak akan mengalami begitu banyak kerugian / kesulitan.
15. Melihat ke Depan
Berpandangan jauh ke depan dan membuat rencana dengan teliti. Seorang penguasa yang berpandangan pendek atau tidak membuat rencana dengan teliti akan penuh kecemasan.
16. Pengamatan
Membuat komitmen untuk sukses. Anda tak perlu pergi ke sungai untuk mandi bila Anda dapat mencuci kotoran di tubuh Anda sendiri. Anda tak perlu kuda unggulan selama ia dapat berlari cepat. Seorang penguasa harus menempatkan orang yang berbakat sehingga mereka dapat melakukan yang terbaik demi negaranya, tidak perduli status ekonomi dll. Orang yang berbeda memiliki pengalaman dan kemampuan yang berbeda pula. Pemimpin yang pintar harus mempergunakan sepenuhnya bakat berbagai orang tersebut untuk mengatasi kesulitan. Kelihatannya setiap orang memiliki kesempatan untuk berhasil. Kita tak boleh menyerah begitu saja.
Diposkan oleh
Kahono
di
12/11/2008
0
komentar
Label: Berita, Celoteh, Motivasi, Refleksi hidup, Renungan
Friday, November 28, 2008
Berbagi Cinta | Kisah Anak Yatim Piatu Mencari Keluarga
Bila diajak untuk berbagi, apa yang ada di pikiran anda? Mungkin berbagi dana, berbagi pakaian layak pakai, sembako dan susu atau berbagi makanan. Ya, semua jawaban biasanya dalam bentuk materi. Itu mungkin karena dikepala kita telah tertancap ide–ide materialistik yang sudah menglobal : mengukur segala sesuatunya dari material dan kasat mata.
Pengalaman nyata dari ayah angkat saya mungkin bisa menjadi pelajaran bahwa berbagi tidaklah mesti berbentuk materi.
Setiap tahun ayah angkat saya punya kebiasaan berkeliling ke berbagai panti asuhan dan rumah anak yatim, kunjungan biasanya dilakukan di dua kali, yaitu awal Ramadhan dan akhir Ramadhan. Kunjungan pertama adalah survei untuk mengetahui kebutuhan panti asuhan atau rumah yatim.
Kunjungan ke dua membawa bantuan sesuai dengan kebutuhan Yang diperlukan.
Ketika berkunjung kesalah satu rumah yatim, ayah angkat temen saya bertemu dengan seorang bocah manis dan lucu, Dia masih sekolah kelas nol besar.
"Siapa namamu, nak?" sapa ayah
"Nama saya nina,
"Nina sudah punya sepatu baru?" tanya ayah "Sudah,
"Kalau begitu Nina mau apa?" tanya ayah
"Nggak ah…… ntar
"Nggak sayang,
"Nggak ah…… ntar
Ayah berpikir, pasti yang diminta Nina adalah sesuatu yang mahal. Rasa keingintahuan ayah semakin menjadi. Maka dia dekati lagi Nina.
"Ayo, nak, katakan apayang kamu minta sayang," pinta ayah "Tapi janji, ya,
"
Ayah menganggukkan kepala. Nina menatap tajam wajah ayah Sementara ayah berpikir, `Seberapa mahal sih yang bocah kecil ini minta sampai dia harus meyakinkan bahwa saya tidak akan marah?'
Sambil tersenyum ayah saya mengatakan, "Ayo, nak, katakan, jangan takut, om tidak akan marah Nak."
"Bener ya
Sekali lagi ayah saya menganggukkan kepala. Dengan wajah berharap- harap cemas, Nina mengajukan permintaannya, " Mmmmm, boleh nggak mulai malam ini saya memanggil
Mendengar jawaban itu, Ayah saya tak kuasa membendung air matany.
Segera dia peluk Nina. " Tentu, anakku……tentu anakku….. mulai hari ini Nina boleh memanggil Ayah, bukan
Sambil memeluk erat ayah saya, dengan terisak Nina berkata, "
Terimakasih ayah…terimakasih ayah."
Hari itu adalah hari yang tak akan terlupakan buat ayah saya. Dia habiskan waktu beberapa saat untuk bermain dan bercengkrama dengan Nina.
Karena merasa belum memberikan sesuatu berbentuk material kepada Nina, sebelum pulang Ayah bertanya lagi pada Nina, " Anakku sebelum lebaran nanti ayah akan datang lagi kemari bersama ibu dana kakak- kakakmu. Apa yang kamu minta nak?"
"
" Nina masih boleh minta lagi sama ayah. Nina boleh minta sepeda.
Otoped atau yang lain, pasti akan ayah kasih." Jelas Ayah saya.
"Nanti kalau ayah datang sama ibu kesini, aku minta ayah bawa foto bareng yang ada ayah, ibu dana kakak-kakak Nina. Boleh
Nina memohon sambil memegang tangan ayah saya. Tiba-tiba kaki ayah saya lunglai. Dia berlutut didepan Nina. Dia peluk lagi Nina sambil bertanya, "Buat apa foto itu, nak?"
"Nina ingin tunjukan kepada sama temen-temen Nina di sekolah, ini foto ayah Nina, ini ibu Nina, ini kakak-kakak nina."
Ayah saya memeluk Nina semakin erat, seolah tak mau berpisah dengan gadis kecil yang menjadi guru kehidupannya dihari itu.
Terimakasih, Nina. Meski usiamu masih belia kau telah mengajarkan kepada kami tentang makna berbagi cinta.
Berbagilah cinta, maka kehidupan kita akan lebih bermakna
Berbagilah cinta agar orang lain merasakan keberadaan kita di dunia
Diposkan oleh
Kahono
di
11/28/2008
2
komentar
Label: Celoteh, Motivasi, Refleksi hidup, Renungan
Monday, November 10, 2008
Pengorbanan Gadis Menjual Keperawanannya | Hidup adalah Perjuangan
Jangan dilihat judulnya.
Wanita itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima . Sang petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan pada wanita itu. Tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di pojok.
Petugas satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus dicurigainya terhadap wanita itu. Karena dua kali waiter mendatanginya tapi, wanita itu hanya menggelengkan kepala. Mejanya masih kosong. Tak ada yang dipesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri. Adakah seseorang yang sedang ditunggunya.
Petugas satpam itu mulai berpikir bahwa wanita itu bukanlah tipe wanita nakal yang biasa mencari mangsa di hotel ini. Usianya nampak belum terlalu dewasa. Tapi tak bisa dibilang anak-anak. Sekitar usia remaja yang tengah beranjak dewasa.
Setelah sekian lama, akhirnya memaksa petugas satpam itu untuk mendekati meja wanita itu dan bertanya:
'' Maaf, nona ... Apakah anda sedang menunggu seseorang? "
'' Tidak! '' Jawab wanita itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat lain.
'' Lantas untuk apa anda duduk di sini?"
'' Apakah tidak boleh? '' Wanita itu mulai memandang ke arah sang petugas satpam..
'' Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukan bagi orang yang ingin menikmati layanan kami.''
'' Maksud, bapak? "
'' Anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk disini ''
'' Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang. Tapi sekarang, izinkanlah saya duduk di sini untuk sesuatu yang akan saya jual ''
Kata wanita itu dengan suara lambat.
'' Jual? Apakah anda menjual sesuatu di sini? ''
Petugas satpam itu memperhatikan wanita itu. Tak nampak ada barang yang akan dijual. Mungkin wanita ini adalah pramuniaga yang hanya membawa brosur.
'' Ok, lah. Apapun yang akan anda jual, ini bukanlah tempat untuk berjualan. Mohon mengerti. ''
'' Saya ingin menjual diri saya, ''
Kata wanita itu dengan tegas sambil menatap dalam-dalam kearah petugas satpam itu.
Petugas satpam itu terkesima sambil melihat ke kiri dan ke kanan.
'' Mari ikut saya, '' Kata petugas satpam itu memberikan isyarat dengan tangannya.
Wanita itu menangkap sesuatu tindakan kooperativ karena ada secuil senyum diwajah petugas satpam itu. Tanpa ragu wanita itu melangkah mengikuti petugas satpam itu..
Di koridor hotel itu terdapat kursi yang hanya untuk satu orang. Di sebelahnya ada telepon antar ruangan yang tersedia khusus bagi pengunjung yang ingin menghubungi penghuni kamar di hotel ini. Di tempat inilah deal berlangsung.
'' Apakah anda serius? ''
'' Saya serius '' Jawab wanita itu tegas.
'' Berapa tarif yang anda minta? ''
'' Setinggi-tingginya. .' '
'' Mengapa?"
Petugas satpam itu terkejut sambil menatap wanita itu.
'' Saya masih Perawan ''
'' Perawan? '' Sekarang petugas satpam itu benar-benar terperanjat. Tapi wajahnya berseri. Peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih hari ini..Pikirnya
'' Bagaimana saya tahu anda masih Perawan?''
'' Gampang sekali. Semua pria dewasa tahu membedakan mana Perawan dan mana bukan.. Ya kan ...''
'' Kalau tidak terbukti? "
'' Tidak usah bayar .....''
'' Baiklah ...'' Petugas satpam itu menghela napas. Kemudian melirik ke kiri dan ke kanan.
'' Saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli keperawanan anda. ''
'' Cobalah. ''
'' Berapa tarif yang diminta? ''
'' Setinggi-tingginya. ''
'' Berapa? ''
'' Setinggi-tingginya. Saya tidak tahu berapa? ''
'' Baiklah. Saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini. Tunggu sebentar ya.''
Petugas satpam itu berlalu dari hadapan wanita itu. Tak berapa lama kemudian, petugas satpam itu datang lagi dengan wajah cerah.
'' Saya sudah dapatkan seorang penawar. Dia minta Rp. 5 juta. Bagaimana? ''
'' Tidak adakah yang lebih tinggi? ''
'' Ini termasuk yang tertinggi, '' Petugas satpam itu mencoba meyakinkan.
'' Saya ingin yang lebih tinggi...''
'' Baiklah. Tunggu disini ...'' Petugas satpam itu berlalu.
Tak berapa lama petugas satpam itu datang lagi dengan wajah lebih berseri.
'' Saya dapatkan harga yang lebih tinggi. Rp.. 6 juta rupiah. Bagaimana?
'' Tidak adakah yang lebih tinggi? ''
'' Nona, ini harga sangat pantas untuk anda. Cobalah bayangkan, bila anda diperkosa oleh pria, anda tidak akan mendapatkan apa apa. Atau andai Perawan anda diambil oleh pacar anda, andapun tidak akan mendapatkan apa apa, kecuali janji. Dengan uang Rp.. 6 juta anda akan menikmati layanan hotel berbintang untuk semalam dan keesokan paginya anda bisa melupakan semuanya dengan membawa uang banyak. Dan lagi, anda juga telah berbuat baik terhadap saya. Karena saya akan mendapatkan komisi dari transaksi ini dari tamu hotel. Adilkan. Kita sama-sama butuh ... ''
'' Saya ingin tawaran tertinggi ... '' Jawab wanita itu, tanpa peduli dengan celoteh petugas satpam itu.
Petugas satpam itu terdiam. Namun tidak kehilangan semangat.
'' Baiklah, saya akan carikan tamu lainnya. Tapi sebaiknya anda ikut saya.
Tolong kancing baju anda disingkapkan sedikit. Agar ada sesuatu yang memancing mata orang untuk membeli. '' Kata petugas satpam itu dengan agak kesal.
Wanita itu tak peduli dengan saran petugas satpam itu tapi tetap mengikuti langkah petugas satpam itu memasuki lift. Pintu kamar hotel itu terbuka. Dari dalam nampak pria bermata sipit agak berumur tersenyum menatap mereka berdua.
'' Ini yang saya maksud, tuan. Apakah tuan berminat? " Kata petugas satpam itu dengan sopan.
Pria bermata sipit itu menatap dengan seksama ke sekujur tubuh wanita itu...
'' Berapa? '' Tanya pria itu kepada Wanita itu.
'' Setinggi-tingginya '' Jawab wanita itu dengan tegas.
'' Berapa harga tertinggi yang sudah ditawar orang? ''
Kata pria itu kepada sang petugas satpam. '' Rp... 6 juta, tuan ''
'' Kalau begitu saya berani dengan harga Rp. 7 juta untuk semalam. ''
Wanita itu terdiam.
Petugas satpam itu memandang ke arah wanita itu dan berharap ada jawaban bagus dari wanita itu.
'' Bagaimana? '' tanya pria itu.
''Saya ingin lebih tinggi lagi ...'' Kata wanita itu.
Petugas satpam itu tersenyum kecut.
'' Bawa pergi wanita ini. '' Kata pria itu kepada petugas satpam sambil menutup pintu kamar dengan keras.
'' Nona, anda telah membuat saya kesal. Apakah anda benar benar ingin menjual? ''
'' Tentu! ''
'' Kalau begitu mengapa anda menolak harga tertinggi itu ... ''
'' Saya minta yang lebih tinggi lagi ...''
Petugas satpam itu menghela napas panjang. Seakan menahan emosi. Dia pun tak ingin kesempatan ini hilang. Dicobanya untuk tetap membuat wanita itu merasa nyaman bersamanya.
'' Kalau begitu, kamu tunggu di tempat tadi saja, ya. Saya akan mencoba mencari penawar yang lainnya. ''
Di lobi hotel, petugas satpam itu berusaha memandang satu per satu pria yang ada. Berusaha mencari langganan yang biasa memesan wanita melaluinya. Sudah sekian lama, tak ada yang nampak dikenalnya. Namun, tak begitu jauh dari hadapannya ada seorang pria yang sedang berbicara lewat telepon genggamnya.
'' Bukankah kemarin saya sudah kasih kamu uang 25 juta Rupiah. Apakah itu tidak cukup? " Terdengar suara pria itu berbicara. Wajah pria itu nampak masam seketika
'' Datanglah kemari. Saya tunggu. Saya kangen kamu. Kan sudah seminggu lebih kita engga ketemu, ya sayang?! ''
Kini petugas satpam itu tahu, bahwa pria itu sedang berbicara dengan wanita.
Kemudian, dilihatnya, pria itu menutup teleponnya.. Ada kekesalan di wajah pria itu.
Dengan tenang, petugas satpam itu berkata kepada Pria itu:
'' Pak, apakah anda butuh wanita ... ??? ''
Pria itu menatap sekilas kearah petugas satpam dan kemudian memalingkan wajahnya.
'' Ada wanita yang duduk disana, '' Petugas satpam itu menujuk kearah wanita tadi.
Petugas satpam itu tak kehilangan akal untuk memanfaatkan peluang ini.
"Dia masih Perawan..''
Pria itu mendekati petugas satpam itu. Wajah mereka hanya berjarak setengah meter. '' Benarkah itu? ''
'' Benar, pak. ''
'' Kalau begitu kenalkan saya dengan wanita itu ... ''
'' Dengan senang hati. Tapi, pak ...Wanita itu minta harga setinggi tingginya.''
'' Saya tidak peduli ... '' Pria itu menjawab dengan tegas. Pria itu menyalami hangat wanita itu.
'' Bapak ini siap membayar berapapun yang kamu minta.
Nah, sekarang seriuslah ....'' Kata petugas satpam itu dengan nada kesal.
'' Mari kita bicara di kamar saja.'' Kata pria itu sambil menyisipkan uang kepada petugas satpam itu. Wanita itu mengikuti pria itu menuju kamarnya. Di dalam kamar ...
'' Beritahu berapa harga yang kamu minta? ''
'' Seharga untuk kesembuhan ibu saya dari penyakit ''
'' Maksud kamu? ''
'' Saya ingin menjual satu satunya harta dan kehormatan saya untuk kesembuhan ibu saya. Itulah cara saya berterima kasih ....''
'' Hanya itu ...''
'' Ya ...! ''
Pria itu memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk menjual kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula menjual penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung gagah berani di tengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini sadar, bahwa di hadapannya ada sesuatu kehormatan yang tak ternilai. Melebihi dari kehormatan sebuah Perawan bagi wanita. Yaitu keteguhan untuk sebuah pengorbanan tanpa ada rasa sesal. Wanita ini tidak melawan gelombang laut melainkan ikut kemana gelombang membawa dia pergi. Ada kepasrahan diatas keyakinan tak tertandingi. Bahwa kehormatan akan selalu bernilai dan dibeli oleh orang terhormat pula dengan cara-cara terhormat.
'' Siapa nama kamu? ''
'' Itu tidak penting. Sebutkanlah harga yang bisa bapak bayar ... '' Kata wanita itu
'' Saya tak bisa menyebutkan harganya. Karena kamu bukanlah sesuatu yang pantas ditawar. ''
''Kalau begitu, tidak ada kesepakatan! ''
'' Ada ! " Kata pria itu seketika..
'' Sebutkan! ''
'' Saya membayar keberanianmu. Itulah yang dapat saya beli dari kamu.
Terimalah uang ini. Jumlahnya lebih dari cukup untuk membawa ibumu ke rumah sakit.
Dan sekarang pulanglah ... '' Kata pria itu sambil menyerahkan uang dari dalam tas kerjanya.
'' Saya tidak mengerti ...''
'' Selama ini saya selalu memanjakan istri simpanan saya.
Dia menikmati semua pemberian saya tapi dia tak pernah berterima kasih.
Selalu memeras. Sekali saya memberi maka selamanya dia selalu meminta.
Tapi hari ini, saya bisa membeli rasa terima kasih dari seorang wanita yang gagah berani untuk berkorban bagi orang tuanya. Ini suatu kehormatan yang tak ada nilainya bila saya bisa membayar ...''
'' Dan, apakah bapak ikhlas...? ''
'' Apakah uang itu kurang? ''
'' Lebih dari cukup, pak ... ''
'' Sebelum kamu pergi, boleh saya bertanya satu hal? ''
'' Silahkan ...''
'' Mengapa kamu begitu beraninya .... ''
'' Siapa bilang saya berani. Saya takut pak ....
Tapi lebih dari seminggu saya berupaya mendapatkan cara untuk membawa ibu saya ke rumah sakit dan semuanya gagal. Ketika saya mengambil keputusan untuk menjual kehormatan saya maka itu bukanlah karena dorongan nafsu. Bukan pula pertimbangan akal saya yang `bodoh` ..... Saya hanya bersikap dan berbuat untuk sebuah keyakinan ... ''
'' Keyakinan apa? ''
'' Jika kita ikhlas berkorban untuk ibu atau siapa saja, maka Tuhan lah yang akan menjaga kehormatan kita ... '' Wanita itu kemudian melangkah keluar kamar.
Sebelum sampai di pintu wanita itu berkata:
'' Lantas apa yang bapak dapat dari membeli ini ... ''
'' Kesadaran... '' .. . .
Di sebuah rumah di pemukiman kumuh. Seorang ibu yang sedang terbaring sakit dikejutkan oleh dekapan hangat anaknya.
'' Kamu sudah pulang, nak ''
'' Ya, bu ... ''
'' Kemana saja kamu, nak ... ???''
'' Menjual sesuatu, bu ... ''
'' Apa yang kamu jual?'' Ibu itu menampakkan wajah keheranan.. Tapi wanita muda itu hanya tersenyum ... Hidup sebagai yatim lagi miskin terlalu sia-sia untuk diratapi di tengah kehidupan yang serba pongah ini. Di tengah situasi yang tak ada lagi yang gratis. Semua orang berdagang.
Membeli dan menjual adalah keseharian yang tak bisa dielakan. Tapi Tuhan selalu memberi tanpa pamrih, tanpa perhitungan ....
'' Kini saatnya ibu untuk berobat ... ''
Digendongnya ibunya dari pembaringan, sambil berkata: '' Tuhan telah membeli yang saya jual... ''. Taksi yang tadi ditumpanginya dari hotel masih setia menunggu di depan rumahnya.. ia memasukan ibunya ke dalam taksi dengan hati-hati dan berkata pada supir taksi: '' Antar kami kerumah sakit ...''
Semoga bisa kita ambil pelajaran dari kisah diatas.
..read more
Diposkan oleh
Kahono
di
11/10/2008
0
komentar
Label: Celoteh, Motivasi, Refleksi hidup, Renungan
- Kahono
- Salam hangat Sobat Blogger semua.. terima kasih Sobat sudah berkunjung ke blog sederhana ini, mari kita saling belajar dan berbagi serta jalin persahabatan. Semoga apa yang ada disini meskipun kecil bisa bermanfaat...
Blog Archive
- June (2)
- February (1)
- December (1)
- June (1)
- August (2)
- May (1)
- April (1)
- February (2)
- August (12)
- July (14)
- June (5)
- February (2)
- January (3)
- December (1)
- October (5)
- September (1)
- August (1)
- July (3)
- June (3)
- May (2)
- April (3)
- March (9)
- February (7)
- January (10)
- December (14)
- November (6)
- October (1)


